Sekolah Dambaanku

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Ini bukan hanya suara saya sebagai salah satu pelajar dari ribuan pelajar di Indonesia. Saya berharap ini juga suara ribuan pelajar di negeri ini yang menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk Indonesia kita tercinta. Bukan hanya sisi buruk yang selama ini memang terpampang jelas mewarnai dunia pendidikan, tidak sedikit dari anak bangsa mewakili negara ini mengantongi medali-medali emas olimpiade akademis dikancah internasional. Tapi tidak sedikit pula anak bangsa yang mengeluhkan pendidikan yang minim dan kurang dari cukup.

          Sebenarnya apa kendala pendidikan di negeri ini ? Banyak. Akan tidak cukup jika saya merangkumnya dalam satu paragraf pembuka saja. Lantas mari kita koreksi ? benarkan kesalahan sepenuhnya berasal dari pemerintah ? Saya rasa tidak. Pendidikan di negeri ini akan sukses seperti sistem yang sudah disusun rapi dan menjadi cita-cita bersama selama ini jika kerjasama terjadi antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua dan tentunya siswa itu sendiri yang dilakukan secara bergotong royong.

          Pemerintah disini berperan sebagai pengatur sistem yang akan ditetapkan diseluruh negeri hingga kepelosok dan melakukan standarisasi pendidikan. Pemerintah juga berkewajiban dalam penyediaan fasilitas yang nyaman untuk para pelajar dalam melakukan proses pembelajaran. Tetapi kita dapat melihat perbedaan jauh yang terjadi dan jonggrangnya keadaan pendidikan di negeri tercinta ini. Fasilitas yang baik, layak, dan lengkap hanya didapatkan di kota-kota besar yang dapat dengan mudah mencium perkembangan zaman. Sementara di pelosok ujung negeri masih banyak anak-anak yang merasa diabaikan dengan fasilitas minim dan seadanya bahkan jauh dari layak.

          Perbedaan fasilitas yang jonggrang disini bukan hanya mengenani perbedaan bangunan dan fasilitas lain yang dapat di nilai secara materil, namun juga minimnya tenaga pengajar yang merelaka dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa di daerah terpencil yang terletak nun jauh di ujung negeri ini. Seharusnya kita menggali disini ? mengapa tenaga pengajar enggan mengajar disana ? Apakah gaji yang kurang ? Saya rasa tidak, guru-guru dengan setatus pegawai negeri memiliki gaji yang sama. Bahkan banyak dari pegawai yang terletak di daerah terpencil masih mendapatkan bonus semacam tunjungan. Lalu, lagi-lagi terbentur fasilitas di lingkungan sekolah yag tidak mendukung. Jalan menuju tempat mengajar yang harus melewati bulak, menggunakan sampan, jalan setapak, dan masih banyak lagi hal yang belum tersentuh jauh di ujung negeri sana. Tentunya para penggajar akan lebih memilih gaji pokok dengan tunjangan kecil tetapi fasilitas serba nyaman di perkotaan.

          Fasilitas ada, bangunan bagus, perekonomian oke (cukup untuk makan dan bisa menyekolahkan anak ), tenaga pengajar siap melayani, pemerintah mendukung, lalu kendala berikutnya datang dari para orang tua. Masih banyak dari para orang tua siswa anak usia sekolah yang belum mengerti arti penting pendidikan di era global seperti sekarang. Tidak hanya cukup dengan bisa baca, tulis, berhitung, jadi lulus SD sudah kerja saja yang katanya bisa membantu perekonomian keluarga. Pemikiran seperti itu mmasih berlaku di era-60  an, sekarang limapuluh tahun lebih sudah berlalu dari era itu, jadi pemikiran bisa  baca, tulis, berhitung  saja tidak cukup tidak berlaku lagi. Anak-anak sekarang harus di dukung oleh orang tua, bukan hanya dari biaya tetapi juga pemikiran sepenting apa pendidikan juga ijazah legal di Indonesia.

          Pemikiran salah para orang tua berikutnya yang masih sering terjadi, bahwa sepenuhnya tugas mengajar adalah tugas guru. Padahal disini, orang tua juga memiliki andil yang besar dalam mensukseskan program belajar yang ada. Pendidikan tidak akan sukses tanpa kendali dari orang tua. Disini maksud saya bukan orang tua juga harus belajar ekonomi, matematika, fisika, geografi, dan lain sebagainnya. Tetapi paling tidak orang tua memegang kendali atas pendidikan anak dirumah. Ini penting, orang tua dan guru harus sama-sama memiliki misi mencerdaskan kehidupan bangsa di generasi selanjutnya.

          Ini hal yang akan mensuksekan dan paling mensukseskan, pelajar itu sediri. Bagaimana bisa ? Keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, semangat penuh, dan motivasi kuat dalam diri adalah penentu dari keberhasilan seorang anak. Pasti dari pembaca pernah ada yang membaca empat seri novel yang ditulis oleh Andrea Hirata atau Trilogi novel karya Ahmad Fuadi. Disana tergambar jelas, perjuangan anak bangsa untuk mendapat pendidikan yang lebih baik. Seperti diceritakan dalam novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, menggambil tolkoh utama seorang anak bernama Ikal yang sukses menamatkan pendidikan hingga Sastra dua di luar negeri dengan beasiswa. Mengharukan, padahal dalam kisah itu dituliskan orang tua iIkal ( Ayahnya ) tidak dapat membaca. Tidak jauh berbeda dengan tokoh Alif Fikri dalam novel hasil karya Ahmad Fuadi, yang mengisahkan perjalan seorang anak bernama Alif yang merantau ke tanah jawa untuk melanjutkan pendidikannya. Bersama sahibul menara Alif dan kawan-kawan memiliki impian masing-mmasing. Andai semua anak Indonesia mempunyai tekad dan kerja keras yang sama seperti tokoh dalam karya dua penulis papan atas Indonesia itu, sepertinya negeri kita akan kaya akademis akademis muda bukan tingkat buta huruf dan putus sekolah yang tinggi.

          Yang berikutnya katanya dilema atau sudah pasti menjadi masalah, saya sendiri tidak memanggap sebagai masalah besar namun memang sedikit memberatkan. Sudah banyak pro dan kontra yang terjadi mengenai banyaknya mata pelajaran dan keterampilan yang harus di kuasai oleh pelajar sekarang. Ya, saya sendiri sempat terbebani, terlebih ketika saya duduk di bangku kelas sepuluh SMA. Waktu itu kalau tidak salah ada enam belas mata pelajaran yang harus di pelajari setiap minggunya dengan setandar kelulusan rata-rata di atas tujuh puluh. WOW, memang wow tapi itu harus kami jalani sebagai syarat kenaikan kelas dan pemilihan jurusan. Apalagi jika ada orang tua yang  selalu mengharuskan ranking kepada putra-putrinya dengan kempuan standar, berat tentunya. Mungkin ini akan terasa ringan untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas standar tetapi bagaimana untuk anak anak yang stagnan di kecerdasan standar, harus memiliki kerja keras dan belajar ekstra tentunya.

          Beban sebagai seorang pelajar tidak lantas berhenti disitu saja. Menhabiskan waktu tujuh jam disekolah setiap harinya, beban banyaknya mata pelajaran, ditambah ekstara kulikuler yang wajib dilaksanakan siswa, tugas, pekerjaan rumah, dan masih ada les privat atau les tambahan untuk menunjang nilai mata pelajaran. Lelah bukan, pasti ! saya sudah menjalaninya rutin selama dua belas tahun. Benar adanya jika tugas dan pekerjaan rumah bukanlah beban melainkan resiko yang biasa disebut sebagai kewajiban sebagai seorang pelajar. Tapi dengan rutinitas yang benar-benar padat dan mata pelajaran yang banyak bukan malah menambah cerdas tapi blunek dengan suasana yang dihadapi sehari-hari.

          Setelah itu ujian kelulusan siswa dari jenjang pendidikan hanya didasarkan pada ujian kelulusan yang ditentukan setiap tiga tahun sekali untuk SMP dan SMA sedangkan SD dilakukan setelah enam tahun proses belajar mengajar. Banyak pelajaran yang akan dihapus jika ujian sekolah telah selesai dilaksanakan seperti sejarah, bahasa asing, keterampilan, kesenian, PKn, Agama, dan masih banyak lainnya. Para guru akan lebih memfokuskan siswanya untuk sukses Ujian Akhir Nasional yang membuat pradigma siswa bahwa hanya dengan lulus pelajaran yang di UAN kan lah yang akan membuat mereka lulus dari satu jenjang pendidikan, lalu pelajaran selain UAN ??

          Sistem kelulusan yang berjalan saat ini pun tidak berjalan efektif sebagaimana direcanakan. Terbukti dengan kebocoran soal setiap tahunnya yang mengakibatkan sebagian dari siswa ataupun siswi mengganggap remeh ujian kelulusan dengan menggantungkan nyawanya pada sebuah kunci jawaban yang antah berantah dari mana didapatkannya. Keadaan seperti ini juga dipicu oleh penilian kuantitatif yang diagungkan, nilai nilai cantik yang akan bertengger di ijazah nantinya. Tapi hanya nilaikah yang dicari dalam UAN ? Kemana moral dan nilai budi perketi yang di ambil dari pancasila ? Jika hal seperti ini terus berangsur hanya akan menimbulkan turunya moralitas para pelajar disusul rendahnya tingkat kepercayaan diri pelajar terhadap kemampuan yang dimiliki oleh dirinya sendiri. Bukankah UAN adalah sebuah sistem yang dirancang sebagai standarisasi nasional kelulusan. Bisakan ini terus terjadi dan menjadi warisan turun temurun kegenerasi selanjutnya ? Jika iya ! Jangan pernah berharap korupsi tidak akan beranak pinak jika dari bangku sekolah ketidak jujuran dalam pencapaian perstasi telah merka lakukan.

          Sekolah dambaan itu pasti idaman seluruh pelajar di semua lapisan masyarakat, dari sabang sampai merauke, dari perkotaan hingga pelosok desa. Semua membutuhkan pendidikan, karena pendidikan anak bangsa memiliki bekal untuk bersaing secara global. Pendidikan tidak akan berhasil jika hanya ada satu, dua, atau tiga pihak yang mendukung. Pedidikan akan berhasi, maju, dan menhasilkan anak-anak bangsa terbaik jika di mulai dari diri sendiri, bimbingan orang tua, keinginan guru mencerdaskan anak bangsa, dan tentunya dorongan ke arah yang lebih baik dari pemerintah. Fasilitas pendidikan juga harus disamaratakan, tidak hanya bangunan, tenaga pendidik, tetapi juga infrastruktur yang baik menuju ke tempat pendidikan. Pemerataan fasilitas tentu sebanding dengan adanya Ujian Akhir Nasional  sebagai standar kelulusan nasional di Indonesia.  Perbaiki dan tingkatkan pengawasan UAN dan kebocoran kunci jawaban, dua puluh paket ternyata tidak menjadi solusi yang tepat untuk mencari kejujuran. Mungkin kesadaran akan adanya CCTV Tuhan akan lebih memperbaiki UAN di masa mendatang. Ayo bersama, bangkit di Indonesia yang lebih baik dengan pendidikan ! Raih lebih banyak medali di kancah internasional . Saya yakin banyak dari anak pelosok yang memili kemampuan yang sama dengan yang tinggal di perkotaan jika dengan fasilitas yang disamaratakan dan kesadaran yang tinggi akan pentingnya pendidikan.

Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s